Minggu, 06 November 2011

tentang sosiologi


Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (apllied science). Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi merupakan pengetahuan yang empiris dan rasional.

Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Pokok bahasan dari sosiologi sebagai ilmu adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

August Comte (1798-1857), bapak sosiologi anggapannya sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statics dan social dynamics. Sebagai social statics sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Social dynamics meneropong bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa.

Menurut August Comte, terdapat tiga tahap perkembangan pikiran manusia, yaitu: tahap teologis, ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia; tahap metafisis, pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala di dunia ini disebabkan oleh kekuatan- kekuatan yang berada di atas manusia; dan tahap positif, merupakan tahap di mana manusia telah sanggup untuk berpikir secara ilmiah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.

Dalam paradigma fakta sosial, masyarakat dipandang sebagai kenyataan atau fakta yang berdiri sendiri, terlepas dari persoalan apakah individu-individu menyukainya atau tidak menyukainya. Masyarakat dalam strukturnya, yaitu bentuk pengorganisasian, peraturan, hirarki kekuasaan, perananperanan, nilai-nilai, dan apa yang disebut sebagai pranata-pranata sosial, merupakan fakta yang terpisah dari individu, namun mempengaruhi individu tersebut.

Sejak kecil individu-individu sudah masuk dalam perangkap daya paksa masyarakat. Mereka dengan segera akan belajar, bahwa tidak boleh berbuat sekehendaknya melainkan harus selalu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan masyarakat di seklilingnya. Dengan demikian, dalam kehidupan ini ada kemauan umum yang harus diikuti di atas keinginan-keinginan individual.

Tulisan Emile Durkheim  yang menerapkan paradigma fakta sosial menekankan corak obyektif hidup bermasyarakat (Veeger, dkk. 1992). Hidup sosial manusia adalah kenyataan yang berdiri sendiri, yang tidak mungkin dapat dipahami hanya berdasarkan ciri-ciri personal orang yang bersangkutan. Kehidupan sosial memiliki hukumnya, dampaknya, dan akibatnya sendiri.

Maka dari itu sosiologi tidak dapat dikembalikan kepada psikologi, walaupun dalam kenyataan ada fakta psikis, tetapi juga ada fakta sosial. Durkheim tidak pula menyangkal bahwa hidup manusia yang bersifat tunggal dan utuh ikut ditentukan oleh ciri-ciri personal. Namun demikian, dia juga menegaskan bahwa kesosialan hidup merupakan unsur otonom yang setidaknya sama nyata seperti keindividualannya.

Hirarki kekuasaan sebagai sebuah fakta sosial, menurut Foucault terjelma karena adanya relasi-relasi kekuatan (force relations), adanya bentuk-bentuk kekuasaan antara sumber dan sasaran kekuasaan (the body), serta sasaran kekuasaan (the social body). Fokus analisis dari pendekatan Foucault adalah pada force relations, sehingga dapat digunakan untuk mengkaji peranan dan dampak dari kekuasaan baik pada tingkat individu maupun masyarakat.

Pada perspektif ini, relasi kekuatan berada pada keadaan yang mobil, artinya bahwa relasi kekuatannya bisa berubah-ubah tergantung pada siapa yang berkuasa dan siapa yang menjadi sasaran kekuasaan, namun kekuasaannya itu sendiri akan tetap ada dan tidak bisa dihindari atau dilenyapkan (Hewitt, 1991).

Pengkajian pada makalah ini akan menempatkan peternak sebagai bagian dari masyarakat pedesaan sebagai sasaran kekuasaan, dan yang menjadi penguasa adalah masyarakat atau institusi lain di luar pedesaan. Bentuk-bentuk kekuasaan antara penguasa dan sasaran kekuasaan dapat dalam bentuk penguasaan bidang politik, informasi, ekonomi, perdagangan, ataupun yang lainnya, sehingga analisis dapat diarahkan untuk mengkaji peranan dan dampak kekuasaan tersebut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar