Minggu, 06 November 2011

masalah sosiologi


Ilmu kesejahteraan sosial sangat erat kaitannya dengan masalah sosial, terutama dalam segi historisnya. Sejarah kesejahteraan sosial yang ditulis dalam buku Introduction to Social Work & Social Welfare (Kirst-Ashman 2007, 146) dijelaskan bahwa hukum tentang kesejahteraan sosial modern pertama kali dibuat di Inggris dikenal dengan nama Elizabethan Poor Law tahun 1601. Isi hukum tersebut merupakan pembagian kelompok penerima bantuan, antara lain :

Dependent children, Anak – anak yang masih tergantung pada suatu tempat yang dapat mengurusnya. Bagi anak laki-laki dipekerjakan oleh tuannya, sampai usia 24 tahun, untuk anak perempuan dijadikan pembantu rumah tangga sampai usia 21 tahun  atau sampai menikah.

The impotant poor, termasuk didalamnya seseorang yang memiliki kekurangan secara fisik maupun psikis sehingga tidak dapat bekerja. Bagi important poor yang tidak memiliki tempat tinggal,maka mereka ditempatkan pada suatu panti yang dinamakan almhouse.

The ablebodied poor, orang-orang yang kondisi fisiknya baik dan masih kuat. Diberikan pekerjaan kasar dan penduduk dilarang memberikan bantuan financial pada mereka. Jika mereka tidak mau bekerja maka akan dimasukkan dalam penjara.

Undang – undang ini dianggap sebagai suatu cikal bakal intervensi pemerintah terhadap masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial. Meskipun sudah kita ketahui bahwa penanaman usaha kesejahteraan sosial telah dilakukan sejak awal masehi oleh pendeta nasrani, maupun oleh umat Islam yang diperintahkan dalam Al-Quran. Dan hingga saat ini berkembang dan mengalami pembagian kerja yang cukup kompleks dalam usaha kesejahteraan sosial.

Masalah sosial merupakan salah satu kajian dalam sosiologi, sebagaimana Comte (dengan metode positifnya) dan Durkheim (dengan aturan metode sosiologinya), maka dalam sosiologi dikenal dengan berbagai metode untuk mempelajari gejala sosial. Metode penelitian yang digunakan ahli sosiologi tidak selalu sama, karena ruang lingkup sasaran perhatian para ahli sosiologi tidak selalu sama, ada yang mempelajari fakta sosial (Durkheim), sistem sosial (Parsons), institusi sosial, tindakan sosial (Weber). Para ahli sosiologi ini mengkaji dan meneliti masalah sosial yang ada di masyarakat sehingga hasil penelitiannya dapat bermanfaat dalam penentuan kebijakan ataupun sekedar mengetahui dampak sosial ada yang ditimbulkan dari suatu masalah sosial, sehingga masalah sosial tersebut dapat dicegah.

Menurut  Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
  1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
  2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
  3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
  4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb

”Perilaku remaja tersebut sangat berisiko, misalnya masalah kesehatan. Karena itu, peran orang tua tetap penting sebagai pengawas mereka,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Remaja IDAI dr Meita Dhamayanti SpA (K) MKes mengatakan bahwa batasan usia remaja berbeda-beda. Menurut WHO, remaja adalah saat anak mencapai usia 10–19 tahun; sedangkan menurut Undang-Undang Kesejahteraan Anak, remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah.

“Yang jelas, saat remaja terjadinya perubahan fisik, mental dan sosial ekonomi,” ujarnya dalam acara ulang tahun IDAI ke-56, yang mengangkat tema masalah kesehatan remaja di Jakarta.

Perubahan yang terjadi pada remaja, papar Memita, antara lain perubahan fisik dan biologis, yakni adanya penambahan jumlah hormon pada anak laki-laki dan perempuan. Selain itu, terdapat pula perubahan pada psikoseksualnya yakni dorongan seks atau orientasi seksual. Terjadi pula perubahan kognitif dan kepribadian seperti perkembangan moral, etika, atau masalah kemanusiaan lainnya.

“Faktor lingkungan inilah yang menjadikan meningkatnya kerawanan pada anak dan yang diresahkan orang tua karena saat anak remaja, mereka lebih mendengarkan peer group-nya (kelompok sebayanya),” ungkapnya.

Dia mengatakan, masalah remaja dapat digolongkan menjadi masalah fisik dan masalah perilaku (psikososial) di rumah, sekolah, di jalan, atau di tempat-tempat lain. Dikatakan Meita, gangguan fisik yang sering dialami remaja di antaranya masalah gizi seperti anemia atau obesitas, atau masalah pubertas dini atau terlambat.

“Berdasarkan survei pada 2001 didapatkan sekitar 26 persen remaja mengalami anemia. Hal ini bisa membuat anak memiliki kecerdasan yang rendah, prestasi di sekolah menurun, gangguan perilaku serta gangguan keterampilan dalam memecahkan masalah,” tutur Meita.

Sementara itu, masalah perilaku yang perlu diwaspadai adalah saat anak tersebut melakukan perilaku berisiko tinggi, secara perorangan atau berkelompok, di antaranya masalah narkotik dan zat adiktif lain (Napza), merokok, sampai pada masalah perilaku yang berdampak pada kecelakaan lalu lintas, kawin muda, serta aborsi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar